Pesan Dari Langit

Kepala rasanya berat sekali siang itu. Seperti menyunggi sekarung beras. Selain berat, rasanya juga ingin ambruk. Kliyengan. Padahal sorenya pukul 16.00 WIB saya harus menjemput anak pulang sekolah. Karena sudah kewajiban, pukul 15.45 WIB saya paksakan untuk tetap menjemput dengan mengendarai sepeda motor. Di tengah perjalanan, badan saya tiba-tiba lemas. Tidak bertenaga. Gemetar seperti ingin ambruk saja.

Saya bertanya-tanya dalam hati, “Ada apa dengan tubuh saya? Apakah ada masalah dengan jantung saya?

Apakah gula darah saya bermasalah?” Saya mencoba menganalisa. Saya tiba di sekolah dengan perasaan tidak menentu. Badan lemas dan kepala kliyengan seperti mau jatuh. Saya melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan kecemasan level 100. Kecemasan seorang ayah yang alamiah. Bagaimana jika saya pingsan di jalan? Bagaimana jika saya mengalami serangan jantung mendadak di jalan hingga mengalami kematian? Bagaimana nasib anak dan istri saya nanti? Benar-benar kacau.

Sesaat setelah tiba di rumah, saya memutuskan untuk segera memeriksakan diri ke klinik terdekat. Tekanan darah saya saat itu kira-kira 170/100. Tidak mengherankan. Meski telah rutin joging, di masa-masa itu saya memang tetap memiliki masalah dengan tekanan darah. Belakangan saya sadari kuncinya adalah di pola makan. Dengan tenang dokter memeriksa dada saya dengan stetoskop yang tergantung di lehernya. Hal sama yang dilakukan Ibnu Sina saat memeriksa pasiennya. Bedanya, dulu belum ada stetoskop sehingga pemeriksaan dilakukan dengan meraba denyut nadi di pergelangan tangan.

This Content is for Subscribers Only

Please enter your email to get full access!
Your email address is 100% safe from spam!

Related blog posts