Setiap kali menjumpai fasilitas jogging track untuk umum yang sangat memadai, saya selalu menyayangkan. “Mengapa ada fasilitas sebagus ini tapi tidak dimanfaatkan masyarakat?” Dalam hati saya bertanya seperti itu karena tidak banyak yang memanfaatkannya. Contohnya, tiga stadion yang ada di Yogyakarta (Stadion Sultan Agung, Stadion Mandala Krida, Stadion Maguwoharjo) sudah sering saya datangi untuk berolahraga.

Pertanyaan yang saya ajukan pastinya dapat dengan mudah kita tebak jawabannya. Yaitu ternyata lebih banyak orang yang malas untuk berolahraga daripada orang yang berolahraga. Lebih banyak orang yang berdiam diri di rumah dibandingkan dengan kelompok orang yang harus keluar rumah untuk capek dan berkeringat.
Fenomena ini sekilas biasa-biasa saja. Suatu hal yang normal. Tapi dalam waktu bersamaan terlihat paradoks. Kalau orang-orang yang memilih malas daripada olahraga itu ditanya, “Apakah kamu ingin hidup sehat dan terbebas dari penyakit?” Jawabannya pasti ingin sehat. Tapi mengapa tidak diikuti dengan tindakan nyata? Jadi terlihat sangat paradoks.
Kita tidak boleh mengabaikan gaya hidup sedentary (tidak aktif), sebab gaya hidup ini menjadi pintu masuk penyakit metabolik yang sangat membahayakan kehidupan kita. Penyakit metabolik yang saya maksud adalah penyakit-penyakit peradaban yang tidak menular seperti stroke, jantung dan diabetes.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2019 mencatat tiga penyakit tersebut sangat mendominasi sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Pertama, stroke dengan jumlah 131,8 kasus kematian per 100 ribu penduduk. Kedua, jantung dengan jumlah 95,68 kasus per 100 ribu penduduk. Ketiga, diabetes melitus dengan jumlah 40,78 kasus per 100 ribu penduduk. Ketiganya dikenal sebagai penyakit tidak menular.
Fakta ini tentu sangat meresahkan semua pihak. Termasuk Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto yang ditunjukkan dengan diluncurkannya program pemeriksaan kesehatan gratis khususnya penyakit jantung, stroke dan diabetes. Program ini dirancang untuk mencapai target 200 juta orang dalam lima tahun kepemimpinannya. Terlepas dari segala kontroversi kepemimpinannya, saya sangat mendukung program ini.
Tahukah Anda penyebab utama dari penyakit tidak menular ini? Ya, gaya hidup! Jika pada masa lampau penyebab utama kematian adalah karena kekurangan makanan, maka saat ini adalah kebalikannya: kebanyakan makanan. Selain itu, minimnya aktivitas fisik juga menyumbang dari faktor gaya hidup. Ironis, sebab sesungguhnya ini bisa dicegah dengan mempraktekkan gaya hidup sehat.
Fenomena sedentary semakin aneh tatkala dihubungkan dengan kehidupan nenek moyang kita yang hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan. Berburu pasti menuntut tubuh yang aktif. Apakah gen berburu telah hilang dalam tubuh kita? Atau jangan-jangan kita mewarisi gen pemalas?
Gen Pemburu-Pengumpul
Dalam kerangka besar arkeologi dan antropologi, nenek moyang manusia hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan. Sebelum pertanian menyebar luas pada awal Holosen, cara hidup utama manusia adalah foraging: mencari makanan dari sumber daya liar melalui berburu, mengumpulkan tumbuhan, menangkap ikan, dan memanfaatkan lingkungan sekitar.

Dalam bagian Introduction buku The Oxford Handbook of the Archaeology and Anthropology of Hunter-Gatherers, Peter Jordan dan Vicki Cummings (2014) menegaskan bahwa hingga sekitar 12.000 tahun lalu, hampir seluruh umat manusia hidup sebagai foragers.
Mereka juga menjelaskan bahwa cara hidup pemburu-pengumpul merupakan konteks penting tempat fase-fase utama evolusi manusia berlangsung sebelum muncul dan menyebarnya pertanian serta penggembalaan pada masa Holosen. Artinya, jika kita menarik sejarah manusia ke lapisan yang paling panjang sebelum pertanian, maka basis hidup nenek moyang kita bukanlah sawah, ladang, ternak, pasar, atau industri, melainkan kemampuan mencari makanan langsung dari alam liar.
Aktivitas pemburu-pengumpul (hunter-gatherer) dalam pengertian umum adalah orang yang komunitasnya hidup dengan berburu dan mengumpulkan, atau berburu, mengumpulkan, dan menangkap ikan, untuk seluruh atau hampir seluruh kebutuhan subsistensinya. Dalam definisi klasik, pemburu-pengumpul murni tidak menanam tanaman pangan dan tidak memelihara hewan domestik, kecuali anjing.
Definisi ini kemudian memang dilonggarkan karena sebagian kelompok pemburu-pengumpul modern memiliki hubungan dagang atau sedikit praktik domestikasi. Namun inti pengertiannya tetap sama: mereka bukan masyarakat yang basis hidupnya bertani atau beternak, melainkan masyarakat yang menggantungkan pangan pada sumber daya liar.
Dengan demikian, secara ilmiah kita dapat mengatakan bahwa nenek moyang manusia—terutama sebelum Revolusi Neolitik—hidup dari berburu, mengumpulkan, dan dalam banyak konteks juga menangkap ikan sebagai strategi utama bertahan hidup.
Fakta ini menjadi menarik ketika dihubungkan dengan rentang waktu kehidupan manusia yang sangat panjang. Menurut Yuval Noah Harari (2011) dalam buku Sapiens, Sejarah Ringkas Umat Manusia dari Zaman Batu hingga Perkiraan Kepunahannya hampir sepanjang keseluruhan sejarah spesies kita, Sapiens (manusia) hidup sebagai penjelajah makanan dengan berburu dan mengumpulkan makanan.
Masa 200 tahun terakhir, sebagian besar Sapiens mendapatkan makanan dari pekerjaan menjadi buruh urban dan pekerja kantoran. Sedangkan selama sekitar 10,000 tahun sebelumnya sebagian besar Sapiens hidup sebagai petani dan penggembala. Dan selama 60,000 tahun sebelumnya Sapiens hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan.
Dengan demikian, merujuk pada pendapat para ahli psikologi evolusi, otak dan pikiran kita masih beradaptasi dengan masa kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan. Kita saat ini menghadapi situasi modern dengan cara berpikir masa pleistosen. Tubuh nenek moyang memang telah punah, tapi gen-gennya masih kita warisi hingga saat ini.
Namun pertanyaan pentingnya, gen-gen seperti apa sesungguhnya yang kita warisi, sehingga melahirkan masyarakat yang begitu malas?
Pelajaran dari Hadza
Pertanyaan tersebut setidaknya juga diajukan oleh Daniel E. Lieberman, seorang profesor biologi evolusi manusia di Harvard University yang banyak meneliti hubungan antara evolusi tubuh manusia, aktivitas fisik, lari, dan kesehatan modern. Dalam bukunya Exercised: Why Something We Never Evolved to Do Is Healthy and Rewarding (2020), Lieberman menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi suku Hadza di Tanzania.
Hadza adalah salah satu komunitas pemburu-pengumpul yang masih bertahan di era modern. Mereka hidup di sekitar Danau Eyasi, Tanzania bagian utara. Jumlah mereka tidak besar, sekitar 1.200 orang, dan secara antropologis sering dijadikan contoh penting untuk memahami bagaimana manusia hidup sebelum pertanian menjadi cara hidup utama.
Mereka bukan representasi sempurna masa lalu, tetapi cara hidup mereka masih menyimpan jejak penting dari pola hidup pemburu-pengumpul: berburu hewan liar, mengumpulkan umbi, buah beri, sayuran liar, dan mengambil madu dari alam.
Ketika Lieberman pertama kali menginjakkan kaki di wilayah Hadza, ia kaget karena yang ia saksikan bukanlah sekumpulan orang-orang yang aktif bergerak sebagaimana yang mungkin kita bayangkan terhadap masyarakat pemburu-pengumpul. Pemandangan pertama yang Lieberman saksikan adalah sekumpulan orang yang sedang duduk-duduk dan tidak melakukan apa-apa. Sekilas ini seperti mewakili budaya sedentary yang tadi kita bahas.

Jadi, apakah memang gen sedentary yang diwariskan nenek moyang kepada kita?
Namun, Lieberman kemudian menemukan jawabannya ketika mengamati keseluruhan aktivitas Hadza. Untuk mendapatkan makanan, orang-orang Hadza harus berjalan terlebih dahulu. Laki-laki Hadza selalu pergi berburu atau mencari madu. Perempuan berjalan berkelompok untuk menggali umbi, mencari buah, dan mengumpulkan makanan liar.
Sedangkan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang menuntut tubuh untuk tetap aktif. Orang tua pun tidak mengenal pensiun sebagaimana masyarakat modern. Selama tubuhnya masih mampu untuk bergerak mereka juga turut serta dalam berburu. Lieberman kemudian menyimpulkan bahwa pada masyarakat seperti ini, aktivitas fisik bukan dalam bentuk program kebugaran, melainkan bagian dari cara bertahan hidup.
Di sinilah letak pelajaran penting dari Hadza. Mereka aktif bukan karena punya program khusus olahraga, tetapi karena perilaku aktifnya melekat dalam aktivitas keseharian. Mereka berlari karena mengejar kambing yang lepas dari kawanannya, bukan karena ingin mengejar “personal best” seperti para pelari “kalcer” dewasa ini.
Orang Hadza berjalan maupun berlari puluhan kilometer untuk berburu rusa, bukan karena sedang mengejar target 10.000 langkah. Mereka aktif bergerak karena makanan harus dicari, digali, dipetik, diburu, dan dibawa pulang. Itulah sebabnya, aktivitas fisik mereka intensitasnya sangat tinggi.
Penelitian tentang Hadza menunjukkan bahwa aktivitas mencari makan mereka sangat intensif secara fisik. Laki-laki dan perempuan sama-sama menghabiskan banyak waktu dalam aktivitas sedang hingga berat setiap hari. Laki-laki lebih sering berburu atau mengambil madu, sedangkan perempuan lebih banyak mengumpulkan makanan tumbuhan. Tetapi keduanya sama-sama aktif bergerak.
Jadi, kalau kita bertanya, “Apa jenis olahraga suku Hadza?” jawabannya adalah mereka tidak berolahraga dalam pengertian modern seperti sekarang. Misalnya running atau strength training. Mereka tidak memisahkan antara olahraga dengan aktivitas sehari-hari.
Bagi Hadza, olahraga adalah efek samping dari kehidupan. Berjalan, memanjat, menggali, membawa beban, membungkuk, jongkok, berlari seperlunya, semuanya menyatu dalam aktivitas harian. Inilah yang dimaksud Lieberman ketika mengatakan bahwa gagasan “training” adalah gagasan modern. Pada masa pemburu-pengumpul, orang-orang aktif bergerak bukan karena program olahraga secara khusus, melainkan karena tanpa bergerak mereka tidak dapat bertahan hidup.
Sampai di sini kita punya satu temuan penting, bahwa ternyata gen yang diwariskan dari nenek moyang bukanlah gen pelari atau gen berlatih beban. Yang diwariskan kepada kita adalah gen bertahan hidup. Baik orang Hadza maupun nenek moyang kita, bertahan hidup berarti menghemat energi sebanyak mungkin, karena energi harus digunakan sewaktu-waktu untuk berjalan jauh ketika berburu mencari makanan.
Maka, ketika Lieberman pertama kali menemukan orang Hadza sedang duduk-duduk bersantai tidak melakukan apa-apa, wajar. Untuk apa mengeluarkan energi yang tidak perlu, sedangkan mereka harus berburu dengan berjalan puluhan kilometer di keesokan harinya?
Sayangnya, manusia modern keliru menafsirkan gen bertahan hidup ini. Otak kita masih menganggap bahwa duduk, rebahan, dan menghemat energi sebagai strategi bertahan hidup sebagaimana era pleistosen. Dunia saat ini sudah identik dengan kelimpahan makanan bukan kelangkaan makanan seperti era pleistosen. Kekeliruan kita dalam menafsirkan gen bertahan hidup inilah yang menjadikan kita saat ini cenderung malas untuk bergerak.
Akhirnya, kita mungkin perlu merenungkan dua pernyataan ini: Jika olahraga adalah satu-satunya cara untuk kita bertahan hidup, maka kita wajib untuk olahraga! Jika istirahat, malas, mager adalah satu-satunya cara untuk kita bertahan hidup, maka tidak masalah sesekali kita tidak ngapa-ngapain alias rebahan saja! Semoga bermanfaat!
(Miftachul Huda, Penulis Buku Rest Area KM 40 untuk Hidup Sehat, Bahagia dan Bermakna)
Referensi
Lieberman, Daniel E. Exercised: Why Something We Never Evolved to Do Is Healthy and Rewarding. New York: Pantheon Books, 2020.
Jordan, Peter, dan Vicki Cummings. “Introduction.” Dalam The Oxford Handbook of the Archaeology and Anthropology of Hunter-Gatherers, diedit oleh Vicki Cummings, Peter Jordan, dan Marek Zvelebil. Oxford: Oxford University Press, 2014.
Harari, Yuval Noah, Sapiens Sejarah Ringkas Umat Manusia dari Zaman Batu hingga Perkiraan Kepunahannya, (Jakarta: PT Pustaka Alvabet, 2017)
