Dari sudut pandang evolusi, menopause itu “aneh”. Logika dasar seleksi alam adalah bereproduksi selama mungkin. Jadi ciri-ciri kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun pada manusia pastinya mendukung prinsip reproduksi ini. Tapi anehnya, seorang perempuan tanpa terkecuali, akan mengalami menopause dengan konsekuensi tidak lagi dapat bereproduksi.

Jika dilihat sekilas, ini bertentangan dengan logika dasar seleksi alam tersebut. Namun, saya percaya bahwa apapun kejanggalan yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini, selalu ada rahasia besar yang terkandung di dalamnya. Seperti mengapa kura-kura berjalan sangat lambat tapi selamat dari kepunahan, itu karena dia dianugerahi cangkang yang sangat kuat.
Ini mengingatkan kepada hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi pada kehidupan kita. Mengapa kita tidak mengambil hikmahnya saja, ketimbang berlarut-larut meratapi nasib buruk? Begitu halnya dengan fenomena menopause, ternyata tersimpan rahasia besar yang mungkin jarang kita ketahui.
Dua Teori Menopause
Rahasia fenomena menopause ini setidaknya tergambar dalam dua teori berikut ini: Pertama, teori good mother. Teori ini mengatakan bahwa menopause mungkin muncul untuk melindungi sang ibu dan anak. Ketika seorang ibu tidak mengalami menopause, kemungkinan dia akan hamil di usia senja sehingga anak bisa terlantar. Menopause juga melindungi keselamatan ibu karena melahirkan sangat beresiko.
Para ahli evolusi mengatakan manusia itu sebenarnya terlahir secara prematur. Tidak seperti sapi, kambing atau binatang mamalia lainnya, lahir “ceprot” langsung bisa jalan. Manusia butuh bertahun-tahun untuk bisa mandiri. Seorang anak biasanya mulai bisa berjalan pada usia 1 tahun. Kemampuan berjalan, sayangnya bukan ukuran kemandirian yang tidak membutuhkan peran seorang ibu. Meskipun seorang anak sudah tumbuh menjadi remaja yang sehat dan cerdas, mereka masih membutuhkan perhatian seorang anak.
Saya sendiri pun mengalami, anak perempuan saya meskipun telah duduk di bangku kelas 2 SD masih sangat bergantung kepada ibunya. Mulai bangun tidur, mandi untuk persiapan sekolah hingga tidur lagi, wajib dengan ibunya. Intinya, cukup lama waktu yang dibutuhkan bagi seorang ibu untuk merawat putra-putrinya.
Proses melahirkan, memang sangat beresiko bagi seorang ibu sekaligus anak. Ini harga yang harus dibayar atas anugerah bipedalisme (berjalan tegak) yang terjadi pada manusia. Bipedalisme berkonsekuensi terhadap struktur tulang yang berbeda khususnya dengan “family” terdekatnya, kera.
Agar efektif berjalan tegak, evolusi menyebabkan tulang paha yang menekuk ke arah dalam dari panggul ke lutut. Sehingga, kedua betis saling merapat dan memberi kita langkah lebih lancar dan anggun. Konsekuensinya, lubang vagina menyempit. Itulah mungkin mengapa manusia terlahir secara prematur. Sebab jika berat badan bayi melebihi batas, akan sangat berbahaya bagi keselamatan seorang ibu dan jabang bayi. Terlebih pada era pemburu-pengumpul di mana proses evolusi itu terjadi, belum berkembang ilmu kedokteran seperti saat ini.
Ringkasnya, menopause mengandung pesan agar setiap perempuan yang hidup lebih lama dapat menjadi ibu yang baik (good mother) dengan menjaga keberlangsungan generasi berikutnya.
Kedua, teori grandmother. Teori ini melangkah satu generasi lebih jauh. Bukan hanya soal merawat anak sendiri, tetapi juga membantu untuk merawat cucu. Tanpa kita sadari, itulah yang terjadi dalam banyak kehidupan kita. Ketika kita sibuk dan anak tidak ada yang menjaga, nenek adalah solusi.

Tidak hanya terjadi pada era berburu dan mengumpulkan makanan puluhan ribu tahun yang lalu, di era modern seperti sekarang, kehidupan kita banyak bergantung kepada seorang ibu, sekalipun kita telah hidup secara mandiri. Apalagi, secara psikologis merawat cucu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi seseorang. Bahkan ada yang mengatakan bahwa mendapatkan cucu melebihi kebahagiaan dibandingkan ketika memiliki seorang anak. Saya sendiri tidak percaya, mungkin saya perlu membuktikannya sendiri kelak.
Maka, perempuan yang hidup lebih lama setelah berhenti bereproduksi bisa membantu mengasuh cucu. Bantuan ini dapat meningkatkan peluang hidup anak-cucunya. Meskipun ia tidak lagi melahirkan, ia tetap membantu kelangsungan genetik keluarganya, karena cucu tetap membawa sebagian gennya.
Inilah mungkin rahasia menopause. Agar dapat menjadi ibu sekaligus nenek yang baik. Selain itu, inilah juga yang mungkin menjadi penyebab mengapa perempuan itu lebih lama hidupnya daripada laki-laki. Begitu mulianya menjadi seorang ibu. Maka saya perlu menambahkan teori yang ketiga: good inspiration. Beliaulah inspirasi terkuat kehidupan seorang anak. Saya berdoa atas segala kebaikan semoga terlimpah kepada seluruh ibu yang ada di muka bumi ini. Amiin…
Perempuan Hidup Lebih Lama?
Peristiwa menopause memunculkan pertanyaan menarik, apakah dengan demikian rata-rata perempuan di dunia ini hidup lebih lama daripada laki-laki? Saya kira pertanyaan ini wajar diajukan. Sebab fakta di lapangan (terlepas dari bukti-bukti ilmiah yang mendukungnya) memperkuat anggapan ini.
Secara pribadi, saya memiliki fakta-fakta yang mendukung. Bapak saya, meninggal terlebih dahulu daripada ibu saya. Beliau meninggal pada tahun 2018 setelah tiga tahun lebih berjuang melawan penyakit diabetes dan stroke. Sedangkan ibu saya hingga saat ini masih hidup. Meski tidak tergolong memiliki kesehatan yang istimewa, di usia yang ke-73 tahun kesehatannya masih cukup baik dibandingkan dengan orang-orang lanjut usia pada umumnya.
Setiap kali mudik ke Lampung, saya masih menyaksikan sendiri bagaimana ibu saya masih mampu mengayuh sepedanya sejauh 3 km. Meski telah rutin mengkonsumsi obat hipertensi, ini menandakan jantungnya masih berfungsi secara baik. Tentu, sekali lagi, jika dibandingkan dengan orang-orang seusianya.
Di tempat yang lain, bapak mertua saya, meninggal dunia terlebih dahulu daripada ibu mertua sekitar 3 tahun yang lalu. Ibu mertua saya, meskipun juga tidak bisa dibilang baik-baik saja, masih hidup hingga tulisan ini dibuat. Masalah kesehatan ibu hanya satu: osteoartritis, pengeroposan pada tulang lututnya. Selebihnya, ibu masih cukup sehat.
Secara ilmiah, tentu ini tidak dapat menjadi bukti cukup untuk mengatakan bahwa perempuan memang hidup lebih lama daripada laki-laki. Saya tidak ingin menyajikan fakta-fakta yang bersifat ilmiah, kamu bisa mencarinya di jurnal-jurnal ilmiah. Silahkan kamu telusuri sendiri kehidupan orang-orang terdekatmu apakah cukup membuktikan anggapan ini? Saya kira kamu akan dengan mudah menemukan faktanya.

Lebih menarik lagi tentang fakta manusia berumur terpanjang di dunia ternyata disandang oleh seorang perempuan. Dia adalah Jeanne Louise Calment yang lahir pada 21 Februari 1875 di Arles, Prancis. Ia meninggal pada umur 122 tahun 164 hari pada 1997. Karena itu ia dikenal sebagai manusia dengan umur terpanjang yang tercatat dan tervalidasi secara resmi.
Suaminya, Fernand Nicolas Calment lahir pada 1868 dan menikah dengan Jeanne pada 8 April 1896 di Arles, Prancis. Fernand meninggal dunia pada 2 Oktober 1942 di Arles, dalam usia 73 tahun. Selisih waktunya sangat jauh bukan?
Pada titik ini, saya hanya ingin mengatakan, “Beruntunglah kamu wahai para perempuan, karena secara “genetik” telah mewarisi gen umur panjang!” Tapi sebagai mana teori good mother dan teori grandmother, rawatlah anak-cucumu sebaik-baiknya untuk menjaga kelestarian generasimu.
Umur Panjang Diperjuangkan
Rekor usia Calment sendiri belum tertandingi khususnya oleh semua lelaki yang pernah hidup di muka bumi ini. Laki-laki tertua yang tercatat adalah Jiroemon Kimura dari Jepang, yang meninggal pada umur 116 tahun 54 hari tahun 2013. Kimura bergaya hidup sehat, sebagaimana jutaan orang Jepang lainnya.
Jika melihat kehidupan orang-orang Jepang, rasa-rasanya saya perlu mengatakan bahwa umur panjang itu memang harus diperjuangkan. Mengapa orang-orang Jepang dikenal memiliki umur panjang? Sebab mereka hidup sangat mandiri dan aktif.
Kehidupan yang mandiri dan aktif khususnya di usia tua ini digambarkan secara menarik di film dokumenter berjudul Live to 100: Secrets of the Blue Zones. Episode pertama film dokumenter ini mengisahkan tentang Okinawa, Jepang sebagai tempat yang menghasilkan begitu banyak centenarian (orang-orang yang mencapai usia 100 tahun atau lebih).
Menariknya, jika dilihat di peta, Okinawa ini adalah daerah yang berada di sisi paling selatan dari negara Jepang. Makin ke Selatan itu artinya semakin mendekati garis khatulistiwa sehingga daerahnya semakin hangat dan semakin banyak musim tanam. Tidak hanya faktor makanan yang mempengaruhi karena ternyata dietnya sangat beragam, tetapi juga mempengaruhi aktivitas penduduknya. Mereka menjadi sangat aktif dalam kesehariannya.

Tentu bukan dalam bentuk olahraga seperti berlari atau angkat beban, tetapi melekat dalam aktivitas hariannya. Seperti berkebun, terhubung dengan komunitas, bahkan hanya sekedar aktivitas rumahan. Saya saksikan dalam film, seorang nenek bernama Toyo Ota (94 tahun) ketika didatangi sedang menjahit pakaiannya sendiri. Menariknya, mata dan tangannya masih sangat piawai memasukkan benang ke lubang jarum yang sangat kecil. Bahkan saya sendiri harus melakukannya sembari menahan nafas dan sedikit menjauhkan dari pandangan mata karena efek “plus” pada mata saya.
Salah satu kunci penting di Okinawa adalah bahwa orang tua tidak segera “dipensiunkan” dari kehidupan. Mereka tetap memiliki peran, tujuan, dan tanggung jawab kecil dalam keseharian. Konsep ikigai membuat seseorang tetap punya alasan untuk bangun pagi, merawat kebun, bertemu teman, menyiapkan makanan, atau terlibat dalam kehidupan sosial. Jadi usia tua tidak dibaca sebagai masa berhenti total, melainkan masa tetap berguna dalam ukuran yang sesuai dengan kemampuan tubuhnya.
Kehidupan di Okinawa juga sangat dekat dengan aktivitas fisik alami. Banyak warga lanjut usia tetap berkebun, berjalan, duduk-berdiri dari lantai, mengurus tanaman, dan melakukan pekerjaan rumah tanpa harus menyebutnya sebagai “olahraga”. Beberapa daerah diketahui mempunyai jalanan yang naik turun, ini sangat mempengaruhi pola aktivitas warganya. Mereka menjadi sangat aktif karena dituntut untuk berjalan kaki naik turun dalam aktivitas kesehariannya.
Selain Toyo Ota, dalam film tersebut juga ditampilkan Harumasa Mekaru (87 tahun) seorang pengrajin alat-alat musik yang masih tetap mengerjakan karyanya. Di dalam rumahnya, dan ini yang menarik, dan mungkin juga kebanyakan rumah orang-orang di sana, tidak mempunyai banyak perabot selain meja rendah dan tatami (tikar tradisional jepang). Orang-orang termasuk Mekaru, lebih banyak duduk dilantai dalam melakukan aktivitasnya.
Artinya mereka banyak melakukan gerakan duduk dan berdiri sepanjang hari, mirip gerakan squat. Bahkan disebutkan ada seorang perempuan berusia 103 tahun yang duduk-berdiri 30 kali sehari. Itu setara dengan gerakan 30 kali squat. Siapa yang bisa melakukan gerakan ini di usia 103 tahun? Bahkan kita yang berusia 40-an pun tidak mudah untuk melakukannya.
Jadi, satu pesan penting yang perlu saya sampaikan adalah umur panjang itu perlu diperjuangkan. Sejauh mana kita telah memperjuangkannya? Jawabannya kembali kepada diri kita masing-masing. Semoga semua orang yang membaca tulisan ini dikaruniai umur panjang, amiiin…..
(Miftachul Huda, Penulis Buku Rest Area KM 40, untuk Hidup Sehat, Bahagia dan Bermakna)

