Cemas itu seumuran manusia. Sejak zaman primitif. Homo sapiens berhasil menyelamatkan dirinya agar tidak punah juga disebabkan perasaan ini.
Cemas timbul dari otak emosi (batang otak). Otak manusia paling primitif. Sebelum akhirnya mengalami evolusi (jika sepakat dengan evolusi) dan menumbukan otak rasional (neokorteks).
Otak emosi mengatur perasaan dan perilaku manusia untuk kabur atau bertempur dalam sekejap. Otak rasional mengatur perasaan tentang kebijaksanaan, seni, keindahan, refleksi, hati-hati.
Jika ada semak-semak yang bergerak-gerak, otak emosi langsung bereaksi tentang tanda bahaya: ada macan. Reaksinya lalu lari. Sebelum sempat otak rasional memberi pertimbangan bahwa itu mungkin hanya kelinci.
Otak emosi membajak otak rasional. Di satu sisi ini kerugian. Di sisi yang lain inilah yang menyelamatkan manusia dari kepunahan. Andai saja betul itu macan, selamatlah dia.
Tapi secara tidak kita sadari, pembajakan otak emosi terhadap otak rasional sering terjadi. Saat ceckout pembelian tiket pesawat contohnya.
Ketika dihadapkan pada dua pilihan jenis tiket (original dan aman) mata saya langsung tertuju pada jenis aman. Karena ada jaminan refund dan asuransi perjalanan.

Jaminan refund/asuransi relevan dengan perasaan cemas dan takut. “Kalau-kalau nanti ada halangan. Kalau-kalau nanti terjadi kecelakaan.” Padahal kemungkinannya kecil sekali. Tapi karena kita dibajak oleh otak emosi, maka “klik” tiket aman adalah pilihannya.
Dalam membuat suatu keputusan tampaknya penting bagi kita untuk berfikir sejenak, reflektif.
Memberikan kesempatan kepada otak rasional untuk mempertimbangkan. Ketika otak rasional bekerja, maka asuransi itu akan diperiksa kembali, apa syarat dan ketentuannya. Oh ternyata harus 24 jam sebelumnya. Oh ternyata hanya mencakup kecelakaan fatal (yang kemungkinannya kecil).
Keputusan yang lebih bijaksana menjadi terabaikan akibat otak rasional dibajak oleh otak emosi. Ingat, pembajakan ini sudah berlangsung lama. Berdirinya rumah sakit, TNI/Polri, adalah akibat kecemasan pada kesehatan dan keamanan.
Semoga kita bisa menjadi orang yang lebih bijaksana dengan tidak membiarkan otak emosi melakukan kudeta. Semoga bermanfaat!
