Kalau kamu pernah ikut ‘war tiket’, pasti tahu rasa deg-degannya menatap layar ruang tunggu virtual. Siang itu, Rabu, 15 Juli 2026, saya merasakan langsung situasi ini. Tepatnya beberapa menit setelah dibukanya pendaftaran “Malioboro Run”. Di layar, ada sebuah bar antrean yang bergerak pelan ke kanan pertanda antrian semakin berkurang diiringi animasi pelari kecil berkostum gatot kaca. Di bawah bar tertulis: Ada 7629 orang di depan Anda dalam antrian. Menatap bar yang beringsut pelan dengan ribuan saingan di depan mata rasanya campur aduk antara harap-harap cemas dan sedikit rasa pasrah.
Antara dua perasaan ini, saya sebenarnya lebih condong yang kedua. Sebab sudah menduga apa yang akan terjadi setelahnya. Dan benar saja, setelah menanti kurang lebih selama 23 menit, apa yang sebelumnya saya duga terjadi: tiket habis. Saya tidak begitu kaget. Karena sudah mengalami hal yang sama tahun sebelumnya. Baik pada event yang sama maupun beberapa event serupa lainnya.

Olahraga lari, memang telah menjadi tren yang digemari banyak orang. Bayangkan untuk event lari seperti Malioboro Run. Sudah bayar mahal, disuruh lari jauh dan pastinya capek, tapi minat pesertanya melebihi kapasitas yang disediakan. Bagi kamu yang belum tahu harga tiketnya, untuk Malioboro Run tiket termurahnya (jarak 5K) adalah Rp350,000, 10K Rp450,000, dan HM (Half Marathon) Rp850,000.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan banyak pihak. Mengapa lari yang dulunya bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja kini telah bertransformasi menjadi komoditas komersial berbiaya tinggi?
Satu hal yang bisa menjelaskan ini mungkin adalah terjadinya apa yang disebut sebagai fenomena running boom. Yaitu sebuah gelombang masif di mana olahraga lari bertransformasi dari sebelumnya sebagai aktivitas fisik individual sederhana menjadi fenomena budaya populer yang digandrungi masyarakat luas.
Tren lari tidak hanya ditandai dengan membludaknya partisipasi publik dalam berbagai event lari, tetapi juga maraknya kemunculan komunitas atau running club di berbagai pelosok kota. Bahkan, aktivitas personal juga semakin marak dilakukan di sudut-sudut kota besar maupun kecil.

Di satu sisi tentu saja ini positif. Daripada tren negatif seperti penggunaan obat-obatan terlarang, lebih baik tren lari bukan? Lebih sehat dan menggembirakan. Namun di sisi lain, running boom seakan melahirkan kesan baru yang cenderung negatif.
Lari identik dengan gaya hidup masyarakat kelas menengah ke atas (upper-middle class) atau yang kini populer disebut juga sebagai desil 9.
Lari yang diidentikkan dengan gaya hidup desil 9 tidak hanya ditunjukkan dengan event lari yang mahal tapi membludak peminat. Tapi juga digambarkan dengan outfit yang digunakan para pelari. Mulai dari sepatu yang mahal, jersey yang mewah, jam tangan dengan harga yang tidak masuk akal dan seterusnya. Ringkasnya, olahraga lari identik dengan gaya hidup hedon. Tidak heran jika lari dianggap sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan suatu masyarakat.

Lebih dari itu, yang membuat saya gusar adalah lari dianggap asosial dan apolitis. Olahraga lari pada akhirnya dipandang sebelah mata karena dilakukan secara egois dan individual karena tidak peduli terhadap lingkungan sekitar (sosial-politik). Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kebanyakan kehidupan masyarakat desil 9 yang mapan dan apolitis. Namun, benarkah demikian? Mari kita bedah dari sudut pandang yang sedikit berbeda.
Tiga Gelombang
Christopher McDougall dalam bukunya yang berjudul Born to Run: A Hidden Tribe, Superathletes, and the Greatest Race the World has Never Seen (2009) mengatakan bahwa fenomena running boom tidak dapat dipandang sebagai tren olahraga biasa, melainkan sebagai respons psikologis dan insting purba manusia terhadap suatu krisis. Dia mencatat, bahwa running boom (khususnya yang terjadi dalam sejarah negara Amerika Serikat) selalu bertepatan dengan masa krisis nasional, di mana manusia secara insting kembali pada keterampilan bertahan hidup yang paling mendasar.
Dalam catatan McDougall setidaknya ada tiga gelombang running boom. Gelombang pertama terjadi di era depresi besar (Great Depression). Tren ini dipicu oleh lebih dari dua ratus pelari yang mengikuti Great American Footrace atau yang lebih dikenal sebagai Bunion Derby (1928), di mana mereka harus menyeberangi negara bagian dengan target lari sejauh 40 mil setiap harinya.
Rute perlombaan ini membentang sepanjang kurang lebih 3.422 mil (sekitar 5.500 km) menyusuri jalan tol legendaris Route 66 yang baru saja dibuka, dimulai dari Los Angeles, California, dan berakhir di New York City.
Dari 199 pelari yang memulai balapan, hanya 55 orang yang berhasil mencapai garis finis 84 hari kemudian.
Perlombaan epik tersebut dimenangkan oleh Andy Payne, seorang pemuda petani Cherokee berusia 19 tahun dari Oklahoma.
Gelombang kedua terjadi pada awal tahun 1970-an. Setelah olahraga lari sempat meredup selama beberapa dekade, minat berlari kembali berkobar pada awal tahun 1970-an. Ledakan ini terjadi ketika masyarakat Amerika Serikat sedang berjuang keras memulihkan diri dari rentetan krisis yang melelahkan secara psikologis: Perang Vietnam, ketegangan Perang Dingin, kerusuhan rasial, skandal presiden (Watergate), serta insiden pembunuhan tiga pemimpin negara yang sangat dicintai (John F. Kennedy, Robert F. Kennedy, dan Martin Luther King Jr.)
Gelombang kedua ini merupakan revolusi lari jalan raya yang memicu pergerakan masif di mana diperkirakan lebih dari 25 juta warga Amerika (termasuk Presiden AS kala itu, Jimmy Carter) menjadikan jogging sebagai bagian dari gaya hidup mereka sepanjang era 70-an hingga 80-an. Secara budaya, ledakan ini turut dipicu oleh kemenangan ikonik atlet Amerika, Frank Shorter, di nomor lari maraton pada Olimpiade Munich 1972. Era ini juga diwarnai dengan terbitnya buku panduan laris The Complete Book of Running (1977) oleh Jim Fixx, serta munculnya perusahaan-perusahaan pembuat sepatu lari komersial seperti Nike yang didirikan oleh Bill Bowerman dan Phil Knight.

Gelombang ketiga terjadi pasca tragedi 9/11/2001 yaitu serangan terorisme bunuh diri dengan membajak empat pesawat komersial yang menabrak gedung World Trade Center (WTC) dan Pentagon. Satu tahun setelah insiden tersebut, saat negara Amerika sedang berada dalam cengkeraman krisis dan ketakutan akan terorisme, lari lintas alam (trail-running) tiba-tiba meledak menjadi olahraga luar ruangan dengan pertumbuhan paling cepat di seluruh negeri.
Lari lintas alam seolah menjadi solusi atas ketakutan masyarakat terhadap terorisme. Karena lari di alam bebas yang sepi menawarkan pelarian serta pemulihan mental dari stres perkotaan pasca tragedi.
Sejak gelombang ketiga ini, trail running terus bertransformasi dari tren lokal menjadi fenomena yang masif. Data dari International Trail Running Association (ITRA) mencatat bahwa cabang lari lintas alam ini kemudian mengalami pertumbuhan konsisten belasan persen setiap tahunnya, dan kini diikuti oleh puluhan juta pelari dari berbagai penjuru dunia.
Christopher McDougall menyimpulkan bahwa fenomena lonjakan olahraga lari (running boom) bukanlah sebuah kebetulan atau tren kebugaran biasa, melainkan sebuah respons psikologis purba umat manusia yang otomatis terpicu oleh krisis sosial-politik dan nasional. Jadi, keliru jika ada anggapan olahraga lari itu asosial dan apolitis sekaligus tidak tepat jika dianggap sebagai simbol kemapanan suatu masyarakat. Karena faktanya, lari adalah respons dari suatu krisis yang terjadi pada masyarakat dan pertanda bahwa situasi sedang tidak baik-baik saja.
Respons Krisis
Running boom yang terjadi di Indonesia, menurut saya tidak jauh berbeda dari apa yang terjadi di Amerika Serikat. Tren lari yang terjadi di masyarakat kita bukanlah simbol kemakmuran masyarakat. Saya sangat jengkel apabila ada yang berpendapat bahwa makin maraknya lari di masyarakat, pertanda bahwa masyarakat makin makmur. “Buktinya, event lari yang mahal harga tiketnya, selalu habis terjual,” begitu kira-kira komentarnya.
Padahal ini adalah gambaran paling nyata atas respons dari krisis yang terjadi di negeri ini. Sejauh pengamatan saya, olahraga lari mulai digemari secara masif oleh masyarakat Indonesia pasca wabah COVID-19 tahun 2020 silam. Pandemi COVID-19 dalam realitasnya tidak hanya sebagai krisis kesehatan, tetapi juga krisis eksistensial yang merampas rasa aman, melumpuhkan ekonomi, dan mengurung kita dalam isolasi paksa berbulan-bulan bahkan beberapa tahun lamanya.
Kebijakan pembatasan sosial (lockdown) menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa besar, terutama bagi kelas pekerja. Begitu regulasi mulai dilonggarkan, melakukan aktivitas luar ruangan (termasuk olahraga lari) tidak hanya menjadi hiburan tetapi sebuah kebutuhan mendesak untuk merebut kembali kebebasan, menghirup udara bebas usia pembatasan sosial yang mirip penjara.
Namun, yang menarik adalah ketika virusnya selesai, tren lari justru terus melonjak. Mengapa?
Karena krisisnya ternyata tidak pernah benar-benar berakhir, tapi hanya berganti wajah.
Masyarakat kelas menengah kita (Desil 5-8) hari ini terus dihantam rentetan krisis sosial yang mencekik. Mulai dari badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran di berbagai sektor, inflasi biaya hidup, tuntutan kerja hustle culture yang toksik, hingga himpitan menjadi generasi sandwich yang harus menghidupi orang tua sekaligus anak. Dalam realitas ekonomi dan struktural ini, kelas menengah merasa sangat tidak berdaya. Sistem berjalan di luar kendali mereka, sehingga harus menjalani hidup dalam bayang-bayang keputusasaan.

kesenangan. Di satu sisi orang berlari karena rasa takut, di sisi yang lain orang berlari ingin mendapatkan kenikmatan. (Sumber canva premium).
Di titik nadir kelelahan mental inilah, lari hadir sebagai penyelamat kewarasan hidup. Lintasan lari seolah menjadi satu-satunya arena di mana kelas menengah memiliki kendali absolut. Di jalanan, tidak ada hierarki kantor, tidak ada tagihan cicilan, dan tidak ada ketidakpastian.
Sampai di sini memang muncul kesan bahwa olahraga lari, sebagaimana namanya, terkesan menjadi “pelarian”. Lari dari masalah hidup yang kompleks. Sehingga bukannya menyelesaikan masalah tapi justru bisa menimbulkan masalah baru. Namun, di sinilah justru paradoksnya.
Dalam kacamata evolusi manusia, lari adalah bagian dari mekanisme flight (kabur). Akan tetapi McDougall justru memaknainya secara berbeda dengan mengutip kisah suku Tarahumara atau disebut juga Raramuri (berarti “orang-orang yang berlari”) yang tinggal di kawasan pegunungan Sierra Madre dan lembah curam Copper Canyon (Barrancas del Cobre), di negara bagian Chihuahua, Meksiko utara. Selama berabad-abad, ketika mereka dihadapkan pada agresi penakluk Spanyol hingga kartel narkoba, mereka selalu memilih untuk menjawab serangan tersebut menggunakan tumit mereka alias melarikan diri lebih jauh ke dalam pedalaman ngarai, alih-alih mengangkat senjata untuk melawan (fight).
Pilihan flight ini terbukti bukan sebuah kepengecutan, melainkan kunci utama yang membuat mereka selamat dari kepunahan dan berhasil mempertahankan diri sebagai peradaban paling sehat, paling damai, serta terbebas dari perang, kejahatan, dan korupsi. Kehidupan suku Tarahumara bahkan menjadi kiblat bagi para pelari yang ingin mendalami hobynya. Buku Born to Run karya McDougall adalah kisah perjalanan penulis ke dalam kehidupan suku tersebut.

Meskipun pemicu awalnya adalah flight (kebutuhan mendesak untuk menjauh dari tekanan, krisis, dan tatanan sosial yang beracun), proses berlari itu sendiri secara paradoks bertransformasi menjadi fight (pertempuran). Di atas aspal, pelari bertarung menaklukkan batasan fisik mereka sendiri, menahan rasa sakit, serta rasa takut dan kelelahan mental yang oleh pelari jarak jauh sering dijuluki sebagai pertempuran melawan “The Beast“.
Jadi, lari dapat dimaknai sebagai bentuk kebijaksanaan tertinggi dan strategi pelestarian diri yang paling cerdas.
Oleh karena itu, kurang tepat jika lari dimaknai semata-mata sebagai bentuk pelarian. Apalagi diidentikkan dengan kelompok elit desil 9. Tren lari tak ubahnya sebagai kerumunan rakyat desil 5-8 yang melakukan protes secara terselubung (silent protest). Protes karena harus menjalani hidup di tengah negara yang sedang dikuasai oleh orang-orang yang serakah.[]
*Miftachul Huda, Ketua Komunitas Runnermu dan Penulis Buku Rest Area KM 40 untuk Hidup Sehat, Bahagia dan Bermakna
