Video detik-detik Purbaya Yudhi Sadewa (Menkeu) dipecat dari jabatannya beredar luas. Mengenakan batik biru lengan panjang, sambil berdiri Purbaya serius menerima panggilan telepon yang konon berasal dari Prasetyo Hadi (Mensesneg). Momen itu terjadi di tengah rapat penting bersama DPD RI. Entah bagaimana perasaan Purbaya saat itu. Lagi serius-seriusnya rapat, eh, dipecat dari jabatannya.
Jujur saya belum pernah merasakan bagaimana sakitnya dipecat dari jabatan. Tapi kalau komparasinya adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, mungkin saya bisa sedikit menggambarkannya. Sebab untuk urusan ini jam terbang saya jauh lebih tinggi dibandingkan Purbaya. Tentu rasanya sakit sekali di dada bercampur dengan perasaan malu yang tak terkira. Perasaan betul-betul kacau dan tidak bisa berpikir secara jernih.

Namun saya sungguh terkejut dengan sikap yang ditampakkan oleh seorang Purbaya. Dia terlihat sangat santai dengan nasib malang yang menimpa dirinya. Setidaknya ini bisa dilihat secara verbal dari gaya komunikasinya. Sehari setelah dipecat, dia masih bisa tersenyum lepas bahkan bercanda secara spontan dengan wartawan yang menodongnya dengan pertanyaan apakah Menkeu yang baru lebih jago dari dirinya dengan menjawab sambil bercanda, “Elo mancing ya? Udahlah jangan ngomong jago-jago lagi, entar susah lagi gue!”
Jelas-jelas ini adalah bentuk kecakapan emosional yang luar biasa dan jarang dimiliki oleh orang biasa.
Masalah Hidup Bertubi-Tubi
Menempuh pendidikan tinggi hingga strata dua saya pikir telah menjadi bekal yang cukup untuk menghadapi kehidupan. Setelah menyelesaikan pendidikan S2, lalu menikah, sempat terseok-seok dengan masalah ekonomi, membangun usaha sendiri dan memiliki anak lalu menyandang predikat pria paruh baya saya pikir masalah hidup selesai sampai di sini. Ternyata tidak, masalah hidup datang bertubi-tubi. Seiring dengan usia anak yang mulai tumbuh dewasa, saya harus bersiap-siap menghadapi masalah menyangkut kehidupan anak. Mulai kehidupan asmara, pendidikan, hingga masa depannya nanti.
Tidak berhenti di situ. Selain itu, secara pribadi saya juga mulai berpikir, apa yang akan terjadi 10 tahun yang akan datang? Apakah bisnis penerbitan buku yang saya jalani saat ini masih bisa tetap berjalan? Ataukah akan punah? Jika punah, apa yang akan saya lakukan nanti sebagai mata pencaharian?
Belum lagi menyangkut kesehatan. Bisa hidup berapa lama lagi saya kelak? 50 tahun? 60 tahun? Atau malah tidak lama lagi?

Aneh memang. Umur yang pendek meresahkan. Panjang pun sebenarnya juga tidak kalah meresahkan. Misalnya saja, jika saya bisa hidup hingga usia 100 tahun. Berarti saya masih akan hidup selama kurang lebih 60 tahun lagi. Apa yang bisa saya lakukan di usia 60 tahun ke atas? Apakah saya masih bisa produktif bekerja? Jika tidak, bukankah saya malah akan menjadi beban bagi anak cucu saya nantinya? Betul-betul meresahkan!
Percayalah, kita semua akan menghadapi masalah hidup yang bertubi-tubi.
Sayangnya, tidak banyak orang yang mempunyai kecakapan emosional untuk menghadapi kehidupan yang penuh masalah. Tetap tangguh dalam menghadapi badai. Tetap bisa tersenyum meski menginjak duri-duri kehidupan. Dan tetap dapat memotivasi diri sendiri di kala jatuh tersungkur.
Karena masalah hidup akan terus datang bertubi-tubi, tidak perduli siapa kita, dan di usia berapa kita, maka mau tidak mau, suka tidak suka, kita wajib memiliki kecakapan emosional yang cukup untuk bekal perjalanan kehidupan.
Dua Otak, Dua Sistem
Selama kuliah, baik S1 maupun S2 saya belajar ilmu agama yang beririsan dengan ilmu sosial humaniora. Tidak ada unsur-unsur ilmu pasti di dalamnya. Bahkan ketika melakukan penelitian-penelitian akademik pun saya lebih memilih metode kualitatif ketimbang kuantitatif. Mungkin karena faktor pragmatis saja. Berawal dari ketidakmampuan hingga berujung pada ketidaksukaan. Saya tidak mampu memahami ilmu statistik sehingga lebih memilih kualitatif.
Pilihan-pilihan ini ternyata mempengaruhi cara pandang saya terhadap sesuatu. Contohnya, ketika seseorang mengalami kegagalan personal (seperti stress atau depresi) saya menganalisanya dengan pendekatan kritis ala marxian. Mungkin sebabnya adalah sistem sosial yang tidak adil, kebijakan negara yang tidak berpihak dan seterusnya. Saya memilih untuk mengabaikan problem-problem internal dalam diri seseorang yang mungkin saja menjadi penyebab utamanya.
Namun seiring berjalannya waktu, terutama karena perkembangan bibliografis dari buku-buku yang saya baca, cara pandang saya mulai bergeser. Saya mulai menaruh perhatian kepada ilmu pasti terutama dalam hubungannya dengan perilaku manusia.
Salah satunya adalah fakta bahwa sebagai manusia kita ternyata mempunyai dua jenis otak.
Secara sederhana, dapat dijelaskan bahwa di dalam tempurung kepala kita bersemayam “otak purba” yang sangat reaktif dan “otak modern” yang analitis. Yang pertama diwakili oleh sistem limbik dan yang kedua diwakili oleh neokorteks. Otak purba ini adalah warisan insting yang bertugas memastikan kita bertahan hidup; ia bekerja sangat cepat, impulsif, otomatis, dan sepenuhnya digerakkan oleh emosi tanpa basa-basi. Sementara itu, otak modern hadir sebagai pusat kebijaksanaan yang membuat kita mampu merenung, berkesadaran, menimbang risiko, dan merencanakan masa depan. Pergolakan antara keduanya menjelaskan mengapa kita sering kali tahu apa yang secara logis harus dilakukan saat menghadapi masalah, tetapi perasaan kita justru menarik kuat ke arah yang berlawanan.

Mode Operasi Pikiran: Fast and Slow
Dari arsitektur biologis inilah lahir dua mode operasi pikiran yang saling berebut kendali dalam keseharian kita. Beberapa ahli sering menyebutkan sebagai Sistem 1 dan Sistem 2. Daniel Kahneman (2025) menyebutnya dengan diksi Fast dan Slow. Sistem 1 bersifat autopilot: bekerja secepat kilat, intuitif, namun sangat rentan bias, yang membuat kita seketika panik, malu, atau marah secara impulsif saat musibah datang.
Namun, Sistem 2 adalah si pemikir lambat yang menuntut usaha kognitif ekstra untuk mencerna kenyataan secara objektif. Kecakapan emosional luar biasa yang ditunjukkan oleh Purbaya tadi pada dasarnya adalah wujud nyata dari keberhasilannya melatih Sistem 2 untuk segera mengambil alih kemudi, tepat ketika Sistem 1 sedang berteriak panik meratapi keadaan.
Bukan berarti saya ingin mengatakan bahwa Sistem 2 lebih unggul daripada Sistem 1 atau sebaliknya.
Namun lebih kepada ketepatan dalam menggunakannya. Seperti kata-kata Aristoteles yang terkenal dalam The Nicomachean Ethics, “Siapapun bisa marah – marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik – bukanlah hal mudah.”
Kemampuan seseorang dalam menciptakan harmoni di antara dua sistem ini adalah bentuk kecerdasan emosional yang sangat berharga di tengah situasi yang tidak menentu ini.
Olah Pikir
Keputusan-keputusan hidup yang tidak rasional bahkan cenderung merugikan seringkali terjadi karena ulah Sistem 1 yang telah melakukan pembajakan mode berpikir. Ironisnya pembajakan ini terjadi secara sukarela tanpa perlawanan berarti. Ini terjadi karena kita tidak menyadarinya. Marah hanya karena tersinggung oleh masalah sepele adalah contoh pembajakan tersebut.
Olah pikir pada dasarnya mengajak kita untuk mempunyai kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna. Aristoteles, filsuf Yunani Kuno, mengatakan bahwa pembeda manusia dengan hewan adalah karena manusia adalah zoon logikon (makhluk atau hewan yang memiliki akal budi/nalar).
Dengan kata lain, manusia adalah “hewan yang berpikir” atau “hewan rasional” (animal rationale).
Oleh karena itu, ia berpandangan bahwa secara kodrat biologis, manusia memang memiliki insting, nafsu, dan kebutuhan fisik yang sama dengan hewan. Namun, satu-satunya fitur pembeda yang mengangkat derajat manusia adalah kapasitasnya untuk berpikir secara logis, mengevaluasi moral, dan menimbang keputusan menggunakan akal. Di sinilah peran “otak modern” (neokorteks).
Olah pikir adalah sebuah upaya sadar untuk mengasah ketajaman fungsi neokorteks tersebut.
Sebagai tempatnya pikiran, neokorteks berperan sangat penting dalam revolusi kognitif yang merupakan tahapan penting dalam sejarah evolusi manusia. Neokorteks menambahkan aspek-aspek penting terhadap perasaan, seperti tentang ide-ide, seni, simbol-simbol, khayalan-khayalan. Sebagai “otak purba”, sistem limbik menghasilkan perasaan nikmat dan libido. Tetapi dengan adanya peran neokorteks dan sambungan-sambungannya ke sistem limbik menghasilkan perasaan cinta dan kasih sayang. Inilah yang menghasilkan ikatan keluarga sehingga manusia berhasil menjaga kelangsungan hidupnya.
Spesies yang tidak mempunyai neokorteks, misalnya reptilia, tidak mempunyai perasaan cinta dan kasih sayang seperti halnya manusia. Tidak heran, ketika anaknya menetas, sang induk dengan darah dingin memakannya mentah-mentah. Kita sering menyebut seseorang yang kejam dan raja tega sebagai manusia berdarah dingin. Disebut seperti itu, mungkin karena seperti reptilia yang tidak mempunyai neokorteks. Manusia jelas punya, tapi mungkin fungsinya tidak dijalankan dengan baik karena terabaikan.

Olah pikir adalah dalam rangka memaksimalkan fungsi kognitif baik yang terabaikan maupun yang tersembunyi.
Neokorteks Sebagai Manajer Emosi
Jasa besar perkembangan ilmu pengetahuan adalah menyibak fakta-fakta tentang kognitif yang sebelumnya tersembunyi. Meski Sistem 1 bersifat impulsif dan gegabah, untungnya masih ada Sistem 2 sebagai penyeimbang khususnya korteks prefrontal yang berperan sebagai pengelola emosi.
Korteks prefrontal, yang merupakan bagian dari neokorteks, adalah sang CEO otak manusia. Dia bertanggungjawab atas banyak proses yang dikaitkan dengan evolusi diri tingkat tinggi. Yaitu penilaian, pengambilan keputusan, pemikiran kompleks, pemecahan masalah, hati nurani dan empati. Sehingga wajar jika dikatakan bahwa korteks prefrontal adalah eksekutif utama otak. Dia menarik informasi dari semua indera dan dari sumber internal juga, termasuk ingatan dan keterikatan emosional.
Fakta menariknya adalah, ketika seseorang merenungkan diri sendiri, korteks prefrontal ini aktif.
Oleh karena itu, dia dapat bertindak sebagai manajer emosi yang efisien. Dia menimbang-nimbang reaksi sebelum bertindak. Mirip ketika orang tua memperingatkan anak impulsif yang merebut barang orang lain dengan berkata agar jangan melakukannya dan supaya bersikap lebih sopan.
Olah Rasa
Di sisi lain, jika olah pikir bertumpu pada ketajaman korteks prefrontal sebagai pusat logika, maka olah rasa berakar pada bagian otak yang secara evolusioner jauh lebih tua. Inilah wilayah kekuasaan sistem limbik, dengan amigdala sebagai panglima utamanya.
Amigdala adalah markas besar dari Sistem 1 yang serba cepat, otomatis, dan beroperasi di bawah sadar. Ia memproses segala informasi dan merespons stimulus dalam hitungan milidetik, bereaksi seketika jauh sebelum logika Sistem 2 sempat merangkai cerita tentang apa yang sedang terjadi.
Seringkali kita menyalahpahami emosi seolah-olah ia adalah sebuah kelemahan, atau sekadar musuh pengganggu bagi rasionalitas pikiran. Padahal, pada bentuk murninya, emosi (rasa) adalah sistem peringatan dini dari tubuh yang didesain secara alami untuk memastikan kita tetap bertahan hidup.
Rasa takut yang tiba-tiba menyergap dapat membuat kita waspada terhadap bahaya, marah hadir mendorong kita menjaga batasan diri, dan jijik menjauhkan kita dari sesuatu yang berpotensi merusak. Imam al-Ghazali, sang hujjatul Islam, mengatakan sekalipun marah itu merusak, dia juga tetap berguna bagi manusia. Jika kadar marah seseorang itu kurang, maka hilanglah semangatnya dalam memperjuangkan agama dan dunia.

Intuisi dan Suara Hati
Selain sebagai sistem alarm, dimensi olah rasa juga sangat erat kaitannya dengan bagaimana tubuh mengumpulkan dan menyimpan jejak pengalaman. Sistem 1 di otak kita secara konstan memproses volume data yang sangat masif di alam bawah sadar berdasarkan rekam jejak masa lalu.
Hasil komputasi kilat dari gudang memori inilah yang dalam keseharian sering kita sebut sebagai intuisi atau firasat.
Intuisi atau firasat inilah yang akan menolong hidup kita terhadap sesuatu yang tidak jelas dampaknya terhadap kehidupan kita. Apakah menguntungkan atau justru merugikan. Berulang kali saya mendapatkan tawaran investasi dengan bagi hasil yang menggiurkan. Tapi intuisi saya merasa bahwa tawaran-tawaran itu sangat tidak masuk akal. Saya menolaknya. Meski ada peluang saya yang keliru, bisa saja intuisi ini menyelamatkan hidup saya.
Dengan mengutip Antonio Damasio, seorang ahli neurologi, Daniel Goleman (2024) dalam bukunya Kecerdasan Emosional mengatakan bahwa intuisi atau isyarat yang muncul dari sudut emosi pada dasarnya digerakkan oleh limbik dari ruang batin yang disebut dengan “penanda somatik” atau secara harfiah “suara hati”. Suara hati ini adalah sejenis alarm otomatis baik sebagai peringatan untuk menjauhi sesuatu yang membahayakan keselamatan atau justru sebaliknya menjadikan kita lebih jeli terhadap adanya peluang emas.
Tidak selamanya pusat emosi ini bersifat negatif, tetapi ternyata justru positif terhadap kehidupan kita.
Olahraga
Lazim dipahami, olahraga itu hanya berhubungan dengan kebugaran fisik. Berguna dalam menurunkan berat badan, menjaga kesehatan, dan penunjang kebugaran fisik lainnya. Tapi ternyata olahraga berguna secara mental, emosional bahkan spiritual. Fakta menarik ini setidaknya ditunjukkan oleh Jim Loehr dan Tony Schwartz (2001) dalam konsepnya tentang “corporate athlete”. Konsep ini ditulis dalam artikelnya berjudul “The Making of a Corporate Athlete” yang dimuat dalam Harvard Business Review (79:120–128).
Corporate athlete digambarkan dalam sebuah piramida yang disebut “piramida performa”. Dalam piramida tersebut, energi fisik adalah lapisan dasar dan utama. Dia menopang kestabilan emosi, ketajaman mental, hingga kejernihan tujuan hidup (spiritual).
Konsep ini terbukti sukses diterapkan oleh para eksekutif yang menghadapi tekanan hidup yang sangat berat. Dalam dunia bisnis, para eksekutif dituntut untuk tampil prima setiap hari. Mereka harus mengambil keputusan penting, menghadapi tekanan target, hingga mengelola konflik. Tuntutan ini dijalani dalam jam kerja yang panjang dan berulang selama puluhan tahun.

Oleh karena itu, untuk bertahan dan unggul dalam tantangan yang berat ini, para eksekutif harus mulai berpikir dan bertindak seperti atlet profesional.
Dari konsep corporate athlete ini, olahraga ternyata sangat membantu seseorang dalam menjaga kestabilan mental, emosional dan spiritual.
Pondasi Harmoni Pikiran dan Perasaan
Kalau dalam konteks corporate athlete olahraga adalah pondasi penting, maka dalam konteks keberadaan dua dimensi pikiran dan perasaan (olah pikir dan olah rasa) olahraga berfungsi layaknya sebagai kancing baju yang menyatukan dua sisi baju yang berbeda. Antara pikiran dan perasaan sekilas memang tampak seperti dua kutub yang saling bertentangan. Padahal keduanya saling melengkapi satu sama lain. Emosi memberi arah terhadap sebuah keputusan, sedangkan nalar mengendalikan sebagai eksekutifnya.
Jika kita mampu mengharmoniskan antara otak nalar dengan otak emosi maka tercapailah apa yang disebut sebagai kecerdasan emosional. Olahraga ternyata dapat menjadi stimulus yang menarik dan menyenangkan untuk menggapai kecerdasan emosional tersebut.
Setidaknya ada lima wilayah kecerdasan utama menyangkut kecerdasan emosional ini. Masing-masing wilayah ini dapat kita pelajari, dalami sekaligus praktikkan dalam konteks olahraga.
Satu, Mengenali Emosi
Lengkah pertama untuk bisa menguasai dan mengendalikan emosi adalah mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Olahraga adalah kesempatan emas untuk dapat mengenali emosi diri. Ketika berlari atau sedang berlatih beban, saya memilih tidak mendengarkan apapun atau berbicara dengan siapapun. Karena waktu olahraga selama 45 menit adalah kesempatan emas untuk mengenali emosi diri.
Siapapun yang dapat mengenali emosinya, maka dia akan dapat menguasainya.
Di tengah keheningan dan tekanan fisik, kita bisa mencermati emosi apa yang sebenarnya sedang menguasai kita—apakah itu rasa lelah, frustrasi, kebosanan, atau dorongan untuk menyerah.

Ketika kita tidak mempunyai kemampuan mencermati perasaan maka akan membuat kita berada di bawah kekuasaan perasaan itu sendiri. Sebaliknya, siapa pun yang dapat mengenali emosinya di saat-saat kritis (seperti saat otot terasa terbakar ketika mengangkat beban), maka dia akan dapat menguasainya.
Orang yang melatih kepekaan ini secara rutin akan memiliki keyakinan yang lebih tentang perasaannya. Sehingga, pengenalan emosi melalui olahraga ini melatih kita menjadi “pilot yang andal” bagi kehidupan kita sendiri, karena kita memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap perasaan kita yang sesungguhnya saat harus mengambil keputusan-keputusan penting.
Dua, Mengelola Emosi
Kedua, mengelola emosi adalah kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri. Di tengah rutinitas olahraga, ada kalanya kita dihadapkan pada rasa lelah yang ekstrem, frustrasi saat gagal mengangkat beban tertentu, atau rasa malas yang melanda sebelum memulai aktivitas olahraga. Olahraga melatih kita untuk mampu melepaskan perasaan-perasaan negatif tersebut. Orang yang terbiasa mengelola tekanan dan ketidaknyamanan fisik ini akan memiliki kemampuan untuk bangkit kembali dari kemerosotan dengan jauh lebih cepat, baik di tempat latihan maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, orang yang sering menghadapi tekanan dan kondisi tidak nyaman akan berpengaruh terhadap kekuatannya dalam menghadapi tantangan-tantangan hidup. Meski terbiasa olahraga setiap hari, tentu saja kita akan tetap menghadapi rasa enggan dan malas. Tapi justru di sinilah point pentingnya, karena itu merupakan latihan untuk menguasai dan mengelola emosi.

Melatih Otot Tekad (aMCC)
Andrew Huberman adalah seorang ahli saraf (neuroscientist) dan profesor di Departemen Neurobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Stanford (Stanford University School of Medicine) dalam podcast di channel The Diary of CEO menyatakan tentang konsep “otak tekad”. Ini merujuk pada area otak yang disebut anterior midcingulate cortex (aMCC). Area ini bertindak sebagai pusat kegigihan (tenacity) atau “otot tekad” yang menyala ketika seseorang merasakan adanya tekanan atau resistensi—baik dari dalam diri maupun lingkungan luar—namun tetap memutuskan untuk maju dan menaklukkannya.
Kabar baiknya, aMCC memiliki sifat plastisitas, yang berarti strukturnya bisa membesar dan menjadi lebih aktif.
Hal ini terjadi ketika kita secara konsisten melakukan hal-hal menantang yang sebenarnya tidak ingin melakukannya, seperti menahan diet ketat atau mempelajari keterampilan yang sulit.
Dengan kata lain, setiap kali kita berhasil memaksa diri melawan keengganan tersebut, kita sedang memperkuat otak untuk lebih siap menghadapi tantangan hidup yang jauh lebih besar di kemudian hari.
Olahraga atau aktivitas positif lainnya dapat dilakukan untuk melatih elastisitas aMCC ini. Termasuk aktivitas mandi air es secara sukarela adalah contoh sempurna untuk melatih area otak ini. Saat menyentuh es, tubuh secara otomatis dibanjiri adrenalin dan noradrenalin yang memicu kepanikan. Dengan memaksa diri untuk masuk, bertahan, dan tetap bernafas dengan tenang di dalam es meskipun otak meronta-ronta ingin keluar, kita sedang berlatih kendali atas saraf. Kapasitas ini akan terbawa ke kehidupan sehari-hari, terutama saat menghadapi stres atau pemicu adrenalin yang tidak terduga, kita akan menjadi mampu menjaga pikiran tetap jernih dan tidak bereaksi secara impulsif.
Tiga, Memotivasi diri sendiri
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan sangat krusial, terutama dalam menahan diri terhadap kepuasan instan dan mengendalikan dorongan hati. Aktivitas fisik ini adalah wujud nyata dari kendali diri ini; kita menunda kenyamanan bersantai demi mendapatkan kebugaran jangka panjang. Selain itu, kebiasaan tersebut juga merupakan cara terbaik untuk memperbaiki sistem reward kita yang kerap dirusak oleh kesenangan-kesenangan instan: makanan manis, scrolling media sosial, dan seterusnya. Olahraga berperan mereset kesenangan instan tersebut.
Olahraga menjadikan kita lebih peka terhadap kebahagiaan karena harus diperjuangkan dengan tetesan keringat.
Mencapai Kondisi Flow (Hanyut)
Ketika kita sepenuhnya fokus pada suatu aktivitas fisik seperti berlari atau kontraksi otot saat mengangkat beban, kita sering kali masuk ke dalam keadaan flow (hanyut). Flow adalah suatu keadaan ekstase yang ditandai dengan perasaan yang seolah-olah dirinya sendiri tidak nyata. Ketika mengalami flow, seseorang merasa berada di awang-awang, sebuah perasaan kebahagiaan spontan dan keterpesonaan.

Kalau kamu pelari dan pernah mengikuti event lari pasti pernah merasakan keadaan flow ini. Terutama terjadi pada saat mencapai garis finish. Kita akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa, baik karena keberhasilan menuntaskan jarak maupun karena sorak-sorai chearing guard, fotografer, dan sekumpulan para penonton di sepanjang jalur finish dan balon gate. Tubuh rasanya seperti melayang dan tiba-tiba merinding disertai suntikan semangat dan tenaga ekstra.
Diane Roffe-Steinrotter, ketika memenangkan medali emas untuk ski dalam Olimpiade Musim Dingin tahun 1994 mengatakan bahwa dirinya tidak mampu mengingat detail perlombaan kecuali perasaan hanyutnya dengan berkata, “Saya merasa seperti air terjun.”
Kemampuan seseorang untuk mencapai keadaan flow merupakan puncak kecerdasan emosional. Karena flow adalah puncak pemanfaatan emosi demi performa dan pembelajaran. Ketika terjadi flow, emosi tidak hanya ditampung dan disalurkan, tetapi juga bersifat mendukung, memberi tenaga, dan selaras dengan tugas yang dihadapi.
Kemampuan menyesuaikan diri dalam “flow” inilah yang memungkinkan terwujudnya kinerja yang tinggi dan produktif.
Empat, Mengenali emosi orang lain
Mengenali emosi orang lain atau empati pada dasarnya adalah kemampuan yang berakar pada kesadaran diri emosional. Semakin kita terbuka terhadap emosi diri sendiri, semakin terampil kita membaca perasaan. Jadi ketika kita berlatih mengenali emosi diri dan mengelolanya maka akan menjadi modal dasar yang sangat baik untuk mengenali emosi orang lain. Karena mengenali emosi orang lain membutuhkan kepekaan. Sama persis dengan ketika kita mengenali emosi diri sendiri.

Kepekaan dibutuhkan karena membaca emosi orang lain amat rumit. Emosi jarang diungkapkan melalui kata-kata. Emosi jauh lebih sering diungkapkan melalui isyarat-isyarat nonverbal. Seperti nada bicara, ekspresi wajah, gerak-gerik, tatapan mata, nafas dan seterusnya. Jadi, ketika kita merasa berbuat salah terhadap seseorang lalu meminta maaf, jangan anggap masalahnya selesai meski orang tersebut telah memberikan maaf. Lihat ekspresi wajahnya, mimiknya dalam memberikan maaf. Kalau matanya merah, nafasnya cepat, senyumnya kecut, bisa jadi maafnya belum tulus.
Saya selalu berpikir dan berusaha mempraktikkan bagaimana menjadi pribadi yang lebih berkesadaran melalui aktivitas olahraga. Karena saya memandang olahraga itu sebagai semacam open source yang bisa dikembangkan untuk tujuan apapun. Apalagi ketika olahraga dijadikan sebagai rutinitas sehari-hari. Kita bisa melakukan banyak sekali eksperimen dengan tujuan yang berbeda-beda.
Contoh, dalam banyak kesempatan saya sering menawarkan konsep tentang mindfulness running. Yakni bagaimana olahraga lari dilakukan dengan penuh kesadaran. Sebab disadari maupun tidak, hidup kita terlalu banyak didominasi oleh sistem autopilot — mengemudi ke kantor tanpa menyadari jalan, makan tanpa mencicipi, bertemu orang tanpa menatap wajah, masuk toilet tanpa berdoa, dan seterusnya.
Olahraga pada dasarnya dapat dijadikan sebagai sarana untuk melatih hidup yang berkesadaran (mindfulness).
Lima, Membina hubungan
Seni membina hubungan, pada dasarnya, adalah keterampilan mengelola emosi orang lain, yang merupakan fondasi dari kepemimpinan dan keberhasilan antarpribadi. Orang-orang yang menjalani olahraga khususnya yang bersifat sosial sangat diuntungkan karena mendapatkan pembelajaran atas keterampilan-keterampilan dalam membina hubungan dengan orang lain.
Memang ada olahraga yang sifatnya individual, misalnya lari, latihan beban atau jenis olahraga individual lainnya. Akan tetapi pada dasarnya semua jenis olahraga bisa dibuat sosial. Contoh, meski lari bisa dilakukan secara mandiri, kita bisa bergabung dengan klub atau komunitas lari untuk membina hubungan ini. Karena bertemu dengan orang lain, bercakap-cakap, menyesuaikan diri dengan keadaan adalah keterampilan penting dalam kecerdasan emosional.

Oleh karena itu, jenis-jenis olahraga yang bersifat sosial sangat membantu dalam meningkatkan keterampilan membina hubungan ini. Contohnya badminton, sepak bola, bola basket, bola voli dan seterusnya. Karena olahraga yang saya jalani adalah lari, maka untuk menjadikannya sosial saya bergabung ke dalam komunitas. Atau menyempatkan diri mengikuti event-event lari dengan tujuan utama untuk membina hubungan sosial.
Pada akhirnya, rutinitas olahraga tidak dapat dipandang sebagai arena untuk menempa ketahanan jasmani semata, melainkan sebuah laboratorium nyata tempat kelima wilayah kecerdasan emosional ini diuji dan dipraktikkan secara berkesinambungan. Ketika kita belajar menyadari dan menguasai perasaan, memotivasi diri di titik terendah, hingga menjaga kepekaan empati serta membina hubungan dengan sesama, kita sejatinya sedang memegang kendali penuh atas kualitas pikiran dan perasaan kita. Inilah esensi terdalam dari olah pikir, olah rasa, olahraga—sebuah sinergi utuh yang tidak hanya melahirkan raga yang tangguh, tetapi juga membentuk jiwa yang lebih cerdas dan bijaksana dalam menyelesaikan maraton kehidupan yang sesungguhnya.[]
*Miftachul Huda, Penulis Buku Rest Area KM 40 untuk Hidup Sehat, Bahagia dan Bermakna
