Sebagai anak petani, saya tidak pernah memiliki hewan peliharaan sapi. Kalau kambing saya pernah punya hingga 24 ekor. Bahkan, ketika usia SD hingga SMP pekerjaan saya setiap sore hari adalah mencari rumput untuk makan kambing. Meskipun demikian, dari banyak teman sepermainan atau tetangga, saya tahu sedikit tentang seluk-beluk sapi. Termasuk ketika dia sedang sakit, yang uniknya, justru menyimpan rahasia alami dari manfaat intermittent fasting bagi kesehatan manusia saat ini.”
Faktanya, kalau sakit, sapi itu tidak mau makan sama sekali. Dia mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Oleh karena itu, karena khawatir sapi akan mati, para pemilik biasanya melakukan tindakan dengan cara memberinya jamu. Membuat ramuan khusus agar sapi dapat pulih kembali. Namun karena sapi menutup mulutnya rapat-rapat, orang biasanya membuat alat minum khusus.
Alat minum itu terbuat dari sepotong ruas bambu. Bagian ujung atasnya dipotong miring (menyerong) sehingga bentuknya menyerupai corong atau paruh. Potongan miring ini berfungsi untuk memudahkan ujung bambu diselipkan ke sudut mulut sapi tanpa melukainya.

Karena sapi tidak mau membuka mulutnya, biasanya membutuhkan bantuan beberapa orang untuk membuka mulut sapi. Usaha untuk membuka mulut sapi secara paksa ini orang jawa menyebutnya, “dicangap” (membuka mulut sapi secara paksa).
Bahkan, saya masih menggunakan istilah ini untuk anak-anak saya ketika masih kecil kalau sulit untuk makan.
“Cepet makan, kalau ngak mau makan tak cangap nanti mulutmu,” begitu kira-kira. Tentu tidak ada maksud saya untuk mengajarkan berkata kasar kepada anak.
Sapi yang tidak mau makan ketika sakit itu bukan berarti bodoh. Memang begitulah cara dia menyembuhkan diri. Para pemiliknya saja yang mungkin terlalu khawatir hewan peliharaannya yang mempunyai nilai ekonomi tinggi akan mati. Sehingga harus melakukan intervensi dengan memberinya jamu ataupun makanan secara paksa agar segera sehat.
Insting Puasa Penyembuhan pada Hewan
Seperti sapi itulah cara hewan menyembuhkan diri, yaitu dengan berpuasa. Ternyata, tidak hanya sapi. Sebagai contoh, landak, beruang, marmut, beruang kutub betina berhibernasi selama berbulan-bulan tanpa secuil makanan. Burung dan binatang buas pemangsa bertahan hidup dengan baik tanpa makanan selama dua minggu atau lebih. Anjing juga berpuasa selama 60 hari. Ikan, penyu, dan salamander dapat bertahan tanpa makanan untuk jangka waktu yang bahkan lebih lama.

Tetapi rekor mungkin dipegang oleh beberapa spesies reptil; mereka dapat bertahan hidup selama satu tahun penuh tanpa makan. Sama halnya dengan salmon, orang-orang menemukan bahwa mereka memiliki sumber energi yang luar biasa selama dan setelah puasa. Ketika kita kehilangan banyak berat badan, kita secara alami akan merasa lebih energik karena kekuatan kita tidak terkuras untuk membawa semua berat “limbah” itu (Cott, 1997).
Terabaikan
Cara tubuh menyembuhkan dirinya sendiri di atas memang terjadi pada hewan. Sedangkan manusia tentu berbeda dengan hewan. Namun, relevansi mengamati hewan berpuasa tidak terletak pada perbandingan mekanika metabolisme secara harfiah, melainkan pada pengingat akan insting biologis purba yang masih kita miliki namun seringkali terabaikan.
Pada tingkat seluler dasar, banyak mamalia memiliki mekanisme pelestarian energi dan pertahanan yang sangat serupa ketika menghadapi penyakit atau cedera. Mencerna makanan adalah proses yang menuntut alokasi energi fisiologis yang sangat besar. Hewan liar, dengan demikian, tanpa intervensi manusia, secara otomatis menggunakan cara alamiah dengan mencari tempat tenang dan berhenti makan saat sakit agar energi tersebut dapat dialihkan sepenuhnya untuk melawan infeksi atau menyembuhkan jaringan yang rusak.

Sebaliknya, manusia sering kali menjadi satu-satunya entitas yang bersikeras untuk tetap makan ketika sakit, meskipun nafsu makan hilang dan makanan memicu mual. Jika kita menelaah evolusi pola makan manusia, pergeseran drastis menuju diet Barat modern—yang ditandai oleh ketersediaan kalori yang konstan, makanan olahan, dan frekuensi makan yang tinggi—telah menumpulkan kepekaan kita terhadap sinyal alami tubuh.
Kita lebih sering makan karena tuntutan jadwal, norma sosial, atau sekadar dorongan emosional, alih-alih merespons rasa lapar yang sesungguhnya. Kita didorong oleh lingkungan sekitar untuk terus “menjaga kesehatan” dengan makan, sebuah anjuran yang sering kali justru berlawanan dengan sifat dasar tubuh manusia.
Berkaca pada hewan bukan berarti saya mengajak pembaca untuk mundur dalam rantai evolusi, tetapi justru menyingkirkan sejenak kebiasaan peradaban yang kadang merugikan.
Puasa dapat mengistirahatkan sistem pencernaan. Dengan puasa, sistem pencernaan pada dasarnya akan melakukan jeda yang sangat esensial di tengah rutinitas konsumsi yang melaju cepat, untuk mengembalikan keseimbangan hidup yang lebih sehat dan bermakna. Kita belajar dari kemampuan hewan untuk melepaskan diri dari intervensi eksternal dan memberikan waktu bagi tubuh untuk melakukan tugas perbaikannya secara mandiri. Sayangnya, cara tubuh yang sangat efektif dalam penyembuhan diri ini semakin banyak diabaikan.
Sejuta Manfaat intermittent Fasting
Berdasarkan buku Fasting: The Ultimate Diet karya Dr. Allan Cott, puasa terbukti memiliki efektivitas yang luar biasa dalam membantu penyembuhan berbagai penyakit manusia. Meskipun demikian, puasa bukanlah “obat dewa” (panacea) untuk segala hal, puasa memungkinkan tubuh untuk mengerahkan mekanisme pertahanannya dan menyembuhkan dirinya sendiri karena energi tidak lagi terkuras untuk mencerna makanan.
Selain itu, puasa — dalam hal ini intermittent fasting maupun puasa dalam pengertian agama — memang memiliki manfaat yang sangat luar biasa. Ia adalah warisan dari cara nenek moyang untuk menyembuhkan diri sendiri.
Berikut ini beberapa manfaat puasa bagi tubuh manusia:
Autofagi dan Pembersihan Seluler Ekstensif
Dalam tingkat sel, seseorang yang berpuasa dapat mengalami apa yang disebut dengan Autofagi yang bermanfaat bagi tubuh untuk merawat dirinya sendiri. Selain itu, ketiadaan asupan asam amino dan glukosa selama puasa menghambat jalur mammalian target of rapamycin (mTOR), protein kinase yang bertindak sebagai sensor nutrisi utama tubuh.

Akibatnya, penurunan aktivitas mTOR secara langsung memicu autofagi, sebuah mekanisme kelangsungan hidup di mana lisosom sel mendaur ulang organel yang disfungsional dan membersihkan akumulasi protein beracun. Pembersihan tingkat seluler ini secara signifikan memperlambat patologi penyakit neurodegeneratif, seperti penumpukan plak amiloid pada penyakit Alzheimer dan alpha-synuclein pada Parkinson (Bagherniya et al., 2018).
Transisi Metabolik dan Pembalikan Resistensi Insulin
Lebih lanjut, metode puasa berkala atau dalam istilah lain juga disebut Time-Restricted Eating (TRE) memaksa tubuh menghabiskan cadangan glikogen di hati dan memicu lipolisis. Transisi dari metabolisme glukosa ke pembakaran asam lemak menghasilkan badan keton sebagai sumber energi alternatif.
Dengan demikian, pergeseran metabolik ini secara drastis menurunkan kadar insulin basal dan mengurangi beban kerja sel beta pankreas. Pembatasan jendela makan harian terbukti secara konsisten menurunkan kadar HbA1c, memperbaiki sensitivitas reseptor insulin, dan mengurangi stres oksidatif di pembuluh darah tanpa mengharuskan pasien melakukan defisit kalori yang ekstrem (Sutton et al., 2018).

Plastisitas Otak dan Neurogenesis
Di sisi lain, badan keton yang diproduksi selama kondisi berpuasa, khususnya beta-hydroxybutyrate (BHB), memiliki kemampuan melintasi sawar darah-otak dengan efisien dan merangsang ekspresi genetik untuk memproduksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF).
Molekul neurotrofik ini mendorong pertumbuhan neuron baru (neurogenesis) serta memperkuat sinapsis yang sudah ada di area hipokampus. Oleh sebab itu, peningkatan BDNF memberikan resistensi tambahan bagi neuron terhadap stres metabolik, yang berfungsi penting untuk menjaga ketajaman fungsi memori dan mencegah penurunan kognitif seiring bertambahnya usia (Mattson et al., 2018).
Resistensi Stres Diferensial pada Terapi Kanker
Saat kita berpuasa, zat pemicu pertumbuhan di dalam tubuh akan berkurang drastis. Hal ini memunculkan sebuah sistem pertahanan yang sangat unik di dalam tubuh.
Ketika tidak ada makanan yang masuk, sel-sel tubuh yang normal dan sehat akan pintar menyesuaikan diri. Mereka memilih untuk “beristirahat”, berhenti memperbanyak diri, dan fokus melindungi dirinya sendiri. Karena sedang dalam mode istirahat dan berlindung, sel-sel sehat ini menjadi lebih aman dari efek keras obat kanker (kemoterapi).
Sebaliknya, sel kanker itu sifatnya “bandel” dan rusak. Mereka tidak sadar kalau tubuh sedang kelaparan. Bukannya ikut beristirahat, sel kanker malah terus memaksakan diri untuk aktif dan berkembang biak tanpa perlindungan apa pun. Karena terus memaksakan diri di saat tidak ada makanan inilah, sel kanker menjadi sangat lemah dan menjadi sasaran empuk yang jauh lebih mudah dihancurkan oleh obat kanker (Nencioni dkk., 2018).

Penyembuhan Penyakit Mental (Skizofrenia dan Psikosis)
Dr. Yuri Nikolayev dari Institut Psikiatri Moskow menemukan bahwa puasa mampu memperbaiki ketidakseimbangan biokimia pada pasien skizofrenia. Dari sekitar 10.000 kasus puasa yang ia tangani, 70 persen pasien skizofrenia kronis yang sebelumnya dianggap tidak ada harapan mengalami perbaikan luar biasa dan dapat kembali hidup normal.
Dr. Allan Cott sendiri mempraktikkan puasa 25 hari kepada seorang pemuda 19 tahun yang menderita skizofrenia parah dan depresi (yang sudah gagal disembuhkan lewat obat dan terapi kejut listrik), dan pasien tersebut pulih serta pikiran mampatnya kembali jernih. Puasa juga berhasil memulihkan memori dan kekuatan intelektual seorang ilmuwan nuklir yang didiagnosis menderita psikosis pikun (senile psychosis) (Cott, 1997).

Tantangan Besar
Meskipun memiliki sejuta manfaat, puasa belum banyak mendapatkan perhatian yang serius. Hal ini ditunjukkan dengan fakta bahwa puasa hanya sebatas dijadikan sebagai himbauan yang bersifat non-medis. Tidak heran, puasa biasanya masih identik dengan perintah agama yang lebih bernuansa spiritual dibandingkan dengan kesehatan fisik. Memang puasa tidak hanya bermanfaat secara fisik bahkan juga spiritual, tetapi yang saya maksudkan di sini dengan pendekatan agama, puasa lebih identik dengan pahala dan dosa.
Memang saat ini puasa sudah mulai banyak dilakukan oleh sekelompok masyarakat sebagai terapi penyembuhan atau sekadar pola hidup sehat. Ini dapat kita lihat pada salah satu platform media sosial seperti Facebook. Misalnya group bernama, “Diet & Intermittent Fasting Menuju Berat Badan Ideal”, “Intermittent Fasting Investasi Sehat”, “Intermittent Fasting dan Progres Sehat” dan seterusnya. Akun-akun yang bergabung pun sangat banyak. Bahkan mayoritas memberikan testimoni yang positif ketika menerapkan puasa.
Akan tetapi sekali lagi ini masih menjadi gerakan “underground” yang belum masif dilakukan. Puasa masih menjadi semacam gerakan bawah tanah yang belum diakui. Sehingga tidak sedikit orang memandang secara sebelah mata. Apalagi kesannya puasa hanya dijadikan sebagai sarana untuk diet dalam rangka menurunkan berat badan.
Namun dari semua itu, yang menjadi masalah utamanya adalah pada wilayah kognitif: nalar.
Ketidaksesuaian Evolusioner (Evolutionary Mismatch)
Tubuh dan pikiran yang kita miliki saat ini adalah warisan masa lalu, yakni puluhan bahkan ratusan ribu tahun yang lalu. Cara kerja dan cara berpikirnya masih sama seperti masa lalu. Tapi kita belum sadar hidup di masa sekarang yang jauh berbeda keadaannya dengan masa lalu. Ada ketidaksesuaian antara tubuh dan pikiran kita dengan konteks kehidupan kita saat ini. Para ahli menyebutnya sebagai evolutionary mismatch (ketidaksesuaian evolusioner).
Ketidaksesuaian ini terjadi khususnya dalam kaitannya dengan naluri dasar manusia untuk bertahan hidup. Prinsip dasar evolusi yang tidak berubah dari nenek moyang kita pemburu-pengumpul hingga saat ini adalah prinsip bertahan hidup. Prinsip bertahan hidup ini setidaknya tercermin kepada dua sikap kita terhadap dua hal.
Pertama sikap kita terhadap sumber energi. Dalam rangka bertahan hidup tubuh dan pikiran kita mempunyai kecenderungan untuk mendapatkan sumber energi sebanyak-banyaknya. Bukti yang masih ada sampai sekarang adalah tubuh kita adalah ruang penyimpanan lemak yang tidak terbatas.
Mengapa kita mempunyai kecenderungan yang sangat baik dalam menyimpan lemak ini? Karena kehidupan kita pada dasarnya berevolusi di tengah kelangkaan sumber makanan. Faktanya, saat ini kita hidup di tengah kelimpahan sumber makanan. Situasi ini melahirkan ketidaksesuaian dalam konteks sumber energi.

Kedua, sikap kita terhadap pengelolaan energi. Karena sumber makanan sangat langka, tubuh kita memiliki kecenderungan untuk menghemat energi sebanyak mungkin. Energi tidak akan dipakai jika tidak ada suatu kebutuhan yang sangat mendesak. Para pemburu-pengumpul tidak akan berlari kecuali ketika sedang melakukan perburuan. Kecenderungan menghemat energi terus ada hingga saat ini, meski kita tidak lagi berburu untuk mendapatkan makanan. Situasi ini melahirkan ketidaksesuaian dalam konteks pengelolaan energi.
Prinsip bertahan hidup dalam dua hal ini melahirkan satu sikap yang dimiliki oleh sebagian besar umat manusia: sedikit bergerak dan banyak makan. Inilah yang banyak “membunuh” kita saat ini.
Kesimpulannya, tidak ada salahnya kita belajar kepada seekor sapi. Dia memang plonga-plongo, akan tetapi justru di situlah kelebihannya. Tidak mengalami kondisi ketidaksesuaian seperti halnya manusia. Sapi tetap hidup selaras dengan kodratnya dan sadar konteks.
Begitulah seharusnya manusia. Hidup sesuai dengan kodrat aslinya sebagai pemburu-pengumpul sembari menyadari konteks kehidupan di masa sekarang.[]
*Miftachul Huda, Penulis Buku Rest Area KM 40 untuk Hidup Sehat, Bahagia dan Bermakna
